‘Etika Makan Sushi’

2 Komentar

Di kota-kota besar Indonesia menyantap makanan ‘khas’ Jepang kini sudah menjadi bagian dari gaya hidup. Di Mall-mall besar kita sudah dapat menjumpai kedai sushi. Beberapa kedai sushi yang tidak asing lagi di telinga kita diantaranya Sushi Tei, Sushi Groove dan masih banyak kedai sushi lainnya. Sering saya menjumpai restoran yang menyajikan hidangan sushi di Mall-mall terkesan cukup santai, dari mulai tata ruang restoran-nya, cara penyajiannya, termasuk cara makannya. Padahal ada beberapa aturan yang seharusnya dilakukan saat menyantap sushi. Mau tahu?

Berikut, saya akan coba uraikan etika makan sushi :

  • Begitu duduk di kedai sushi, biasanya pelayan akan memberikan oshibori (handuk panas) untuk mengelap tangan kita.
  • Seberapa besar-pun pengetahuan Anda akan sushi, sang koki pasti tahu lebih banyak.  Omakase adalah salah satu cara pemesanan menu makanan. Artinya, Anda menyerahkan kepada si koki untuk menu yang akan Anda santap. Koki akan memastikan Anda mendapat bahan tersegar, tapi siap-siap mendapat pilihan sushi yang isinya ‘tidak biasa’ ya ?
  • Ketika makanan disajikan ke meja kita, ucapkanlah ‘itadaki masu’ (itada ki mas). Mengucapkan kalimat tersebut sama hal-nya seperti mengucapkan, ‘Makanannya terlihat enak!’ yang juga berarti ucapan terima kasih atas makanan yang telah disediakan. Jika anda sedang bersama orang jepang dengan Anda mengatakan kalimat ini sebelum makan, maka mereka akan sangat menghargai Anda.
  • Restoran yang otentik biasanya tidak akan menggunakan sumpit sekali pakai. Namun, jika Anda berada di restoran yang menggunakan sumpit sekali pakai, maka perhatikan cara Anda menggunakannya. Biasanya, sumpit sekali pakai terbuat dari kayu putih yang saling menempel. Untuk menggunakannya, Anda harus mematahkan sumpit tersebut agar terpisah, pastikan Anda mematahkannya sambil memegangnya secara horizontal. Ini dilakukan untuk mengurangi kemungkinan Anda menyikut orang yang duduk di sebelah Anda
  • Temaki-zushi dimakan langsung dengan tangan, karena bentuk kerucutnya menyusahkan jika memakai sumpit. Sedangkan Nigiri-zushi sebenarnya bisa dimakan langsung dengan tangan (tanpa perlu bantuan sumpit). Tapi, sekarang banyak pula yang memakannya dengan memakai sumpit.
  • Tuangkan shoyu ke mangkok saus, lalu masukkan wasabi. Campur kedua bahan ini. Kalau tidak mau pakai wasabi juga sah-sah saja, karena di dalam potongan nigiri-zushi tersebut biasanya sudah diselipkan sedikit wasabi. Akan tetapi, praktek mencampurkan shoyu dan wasabi ini wajib hukumnya jika kita memakan sashimi.
  • Masukkan sushi tersebut dengan sekali lahap. Jika potongan sushi terlalu besar (biasanya terjadi pada fusion sushi), maka gigit pelan-pelan agar isi sushi tersebut tidak berhamburan.
  • Memakan acar jahe (gari) terlebih dahulu sebelum memakan habis sushi-nya. Nikmatilah acar jahe bersamaan (di antara) potongan sushi sebagai pembersih langit-langit mulut Anda.
  • Selesai makan, putar hashioki  (tempat menaruh sumpit) dengan sumpit. Lalu, tempatkan sumpit perlahan di samping  botol soy sauce , berhadapan paralel dengan bar sushi. Ucapkanlah “Gochi-so-sama-deshi-ta.” Mengucapkan “Gochi so sama deshi ta” sama seperti mengungkap, “Wah, enak sekali!”. Ucapan ini sudah merupakan standar protokol untuk mengucapkan kata-kata tersebut usai bersantap. Jika Anda mengucapkan hal tersebut kepada koki sushi Anda, maka ia akan membungkuk sebagai rasa terima kasih kepada Anda. Jika Anda bertemu koki yang benar-benar asli dari Jepang, kemungkinan ia akan menjawab “Osamatsu deshita”, yang artinya, “Maaf saya tidak bisa menyajikan makanan yang terenak,” meski kemungkinan ia sudah menyajikan yang terbaik. Namun, jangan lantas kecewa jika ada koki sushi yang hanya membalas dengan senyuman.

Beberapa hal yang tidak boleh dilakukan ketika makan sushi :

  • Menggosok-gosok sumpit. Mungkin tujuan anda hanya ingin menghilangkan ‘rambut-rambut’ sumpit yang katanya bisa membuat masalah kesehatan. Namun ternyata, itu merupakan penghinaan buat kedai sushi tempat kita makan. Kalau kita gosok-gosok begitu, itu menunjukkan kedai sushi itu memberikan sumpit berkualitas buruk pada kita dan jangan menancapkan sumpit pada makanan Anda, karena hal ini hanya untuk suasana berkabung.
  • Jangan membagikan sushi dari sumpit langsung ke sumpit lain. Etiket yang satu ini juga sedikit banyak mendapat pengaruh dari ajaran Buddha dan sebagian lagi karena keterbatasan ruang. Di Jepang, mereka menggunakan budaya kremasi untuk menguburkan jasad seseorang. Setelah dibakar, para anggota keluarga inti akan memeriksa sisa pembakaran untuk memisahkan tulang yang tersisa. Sisa-sisa tulang tersebut akan diberikan kepada orang lain dengan cara dari sumpit ke sumpit sebelum disimpan. Karenanya, ketika Anda membagikan sushi dari sumpit langsung ke sumpit, akan membangkitkan kenangan tidak mengenakkan dan tidak sopan. Lain kali, jika ada yang menawarkan sushi dari sumpitnya, angkat piring kecil Anda untuk menerima sushi tersebut.
  • Jangan mencelupkan nasi ke shoyu-wasabi. Ambil sushi, dan celupkan bagian ikannya ke shoyu-wasabi. . Baiknya, hanya bagian dagingnya yang dicelupkan. Kalau nasinya yang dicelupkan, nasinya akan menyerap kecap asin banyak-banyak sehingga sushi-nya keasinan, dan hal ini akan membuat kepalan nasi jadi hancur lebur.
  • Jangan menuang minuman sendiri. Biasanya, orang Jepang akan mengkonsumsi makanan Jepang sambil ditemani minuman Kirin, Asahi, atau Sapporo. Untuk hal yang satu ini, mereka sangat mengagungkan kebersamaan dan saling berbagi. Jika Anda mengambil botol minuman, pastikan Anda mengisi gelas orang-orang lain yang ada di meja, tapi jangan mengisi gelas Anda karena orang lain yang memerhatikan Anda pasti akan langsung mengambil inisiatif untuk mengisi gelas Anda.  Jangan memesan soft drink karena minuman ini akan merusak rasa alami sushi.
  •  Jangan menyerahkan uang kepada koki sushi. Koki restoran sushi tidak pernah menyentuh uang saat sedang bekerja.

Pelengkap Sushi

  • Wasabi :  Krim berwarna hijau dari lobak yang berfungsi sebagai penyedap makanan Jepang seperti sashimi, sushi, dan soba. Aromanya harum dan menyengat. Wasabi berfungsi untuk mematikan bakteri-bakteri yang terdapat dalam ikan mentah dan bisa mencegah terjadinya keracunan makanan.
  • Soy Sauce :   Nama lainnya shoyu a.k.a  kecap Jepang yang bercitarasa asin, namun ada ada juga yang lebih manis.
  • Gari : Manisan jahe berwarna merah muda. Gari berfungsi untuk menetralkan lidah kita supaya potongan sushi yang kita makan nggak terpengaruh oleh rasa sushi yang sebelumnya.
  • Nori :  Lembaran rumput laut (berwarna hitam) yang berguna untuk memegang sushi agar tidak lengket di tangan.
  •  Ocha : green tea sebagai teman minum.

Team Bukan Sekadar Group, Apalagi Crowd.

Tinggalkan komentar

“Team work is the ability to work together toward a common vision. The ability to direct individual accomplishment toward organizational objectives. it is the fuel that allows common people to attain uncommon results”

Team Bukan Sekadar Group, Apalagi Crowd.

Hermawan Kartajaya dalam bukunya “Marketing Klasik Indonesia” menjelaskan bahwa ribuan orang yang sedang menonton sepak bola di suatu stadion yang sama bukan-lah sebuah group , memang mereka sama-sama menonton bola tetapi supporter dari kesebelasan yang berbeda. Itulah crowd !

Group berbeda dengan crowd, karena tingkat homogenitasnya lebih tinggi. Sebuah group memiliki tujuan yang sama. Dengan demikian, perilaku anggota dari group tersebut lebih bisa diramal atau lebih merupakan predictable behaviour. Para sopir bus kota yang tergabung dalam suatu asosiasi bisa menganggap diri mereka sebagai suatu kelompok profesi tertentu.

Namun, team berbeda dengan group karena adanya ‘trust’ diantara anggota. Suatu rasa percaya mendalam yang belum tentu ada di group. Seorang anggota team tidak merasa sukses kalau rekan lainya merasa tidak demikian. Kekuatan sebuah team terletak bukan pada kekuatan perseorangan, tetapi lebih pada kekuatan ‘sinergi’ diantara para anggota.

Sebuah organisasi perusahaan yang masih merupakan group dan belum merupakan team hanyalah sekelompok orang dengan tujuan bersama. Namun, yang sudah merupakan team, mereka sudah mempunyai suatu prinsip dasar yang melandasi kerja sama diantara mereka untuk mencapai tujuan bersama tersebut (common goal).

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 169 pengikut lainnya.